Wah… judul diatas kok sepertinya menantang ya hehe… justru bukanlah menantang, karena saya mencoba mengingatkan kembali kepada Anda dan kita semua untuk lebih memahami esensi dan urgensi perencanaan keuangan bagi keluarga kita.
Tulisan ini berisi highlight mengenai urgensi perencanaan keuangan buat keluarga, sikap mental yang harus dibangun diawal untuk keberhasilan perencanaan keuangan, bagaimana tahapan dan hal-hal urgent apa saja yang harus diperhatikan, bagaimana menjaga motivasi jangka panjang.
Kalo dianalogikan ibarat lari marathon, perencanaan keuangan perlu stamina yang kuat, disiplin dalam mengatur langkah dan pernafasan, merayakan keberhasilan untuk tiap etape yang sudah dilalui dan berhasil mencapai garis finish tujuan keuangan.
Sekilas hasil studi perencanaan keuangan
Suatu studi yang dilakukan oleh Kadence International terhadap 3.000 responden di kota besar, menunjukkan hasil yang mengejutkan. Studi yang dilakukan dari bulan Juli-Oktober 2013 ini, menyatakan bahwa seperempat masyarakat pengeluarannya lebih besar daripada pemasukan.
OJK (Otoritas Jasa Keuangan) juga pernah melakukan survey nasional literasi keuangan terhadap 8.000 responden di 27 propinsi. Survey tersebut menghasilkan kesimpulan yang tidak kalah mengejutkan, yaitu bahwa hanya 2 dari 100 orang Indonesia yang sudah mengerti dan memiliki program dana pension.
Nah lewat fakta inilah, kita dapat beragumentasi bahwa perencanaan keuangan adalah issue yang sangat penting, tidak hanya urgensinya saat ini, namun juga dimasa mendatang. Kita lah sendiri yang harus mempersiapkan tanpa harus menunggu atau bergantung pada orang lain atau mungkin ada sebagian yang bergantung pada Pemerintah. Mari kita mencoba berkelana ke masa depan, dan mulai mempersiapkan hal2 apa saja yang paling kita inginkan dimasa depan 5,10,15,20 atau bahkan 30 tahun kedepan untuk keluarga.
Mindset awal yang penting, hidup harus punya rencana!
Mindset awal yang penting dalam perencanaan keuangan adalah mindset bahwa hidup tidak bisa hanya mengalir begitu saja, namun juga perlu disikapi secara tepat. Modal mindset awal ini menjadi sangat penting, karena dengan mindset yang sudah tepat, maka akan mendorong sikap dan tindakan yang sesuai. Perencanaan keuangan tidak melulu bicara soal uang dan uang, namun didalamnya menyangkut dimensi bagaimana kita menghargai waktu, bagaimana kita mensyukuri nikmat hidup dan keluarga yang sudah dimiliki, dimensi tanggung jawab untuk menjaga asset dan kesehatan kita, termasuk juga dimensi social yaitu bagaimana kita bisa ikut berperan membantu orang lain, tentu saja hal ini bisa dengan mudah kita lakukan jika kondisi keuangan kita cukup kuat.
Jadi kesimpulan umumnya adalah bahwa Financial Planning bukanlah semata soal punya uang atau tidak, namun lebih daripada itu, yaitu bagaimana sikap kita terhadap uang atau harta yang kita miliki. Tujuan dari financial planning ini adalah bagaimana kita bisa membuat rencana kehidupan kedepan dengan lebih baik, kesiapan dan kedisiplinan kita terhadap tujuan dan yang terpenting adalah spirit motivasi kita untuk mencapainya. Jadi tidak ada alasan buat siapapun untuk tidak memiliki perencanaan kehidupan, setiap orang membutuhkan perencanaan keuangan.
Perencanaan keuangan ibarat peta
Anda tentunya setuju bukan kalo disebut perencanaan keuangan ibarat peta atau roadmap, yang akan membantu menguatkan pikiran, ikhtiar dan disiplin kita untuk mencapai tujuan atau mimpi-mimpi terbaik buat keluarga.
Nah, tahap awal yang harus dimatangkan terlebih dahulu adalah family goal (tujuan keluarga). Tentunya ketika saat menikah, salah satu janji kepada keluarga adalah membawa kebahagiaan dan kebaikan buat keturunan kita kelak. Nah, spirit ini yang coba dikuatkan kembali saat ini, sebagai “modal” motivasi yang paling kuat saat ini, dan juga motivasi untuk membahagiakan keluarga, misalnya menyiapkan pendidikan terbaik, menyiapkan dana untuk pernikahan anak, menyiapkan dana untuk masa pension nanti. Dengan goal yang kuat, mudah2an membantu semangat kita untuk terus lebih baik lagi.
Kalo kita sedikit berkaca kepada orangtua kita dan mungkin juga orang tua Anda, dimana dimasa tua-nya setelah pension, mereka masih memiliki asset yang boleh dikatakan berlimpah, semisal tanah atau emas, dan secara keuangan tidak bergantung pada kita. Tentunya kita kedepannya ingin seperti mereka juga bukan? Kalo coba kita tanyakan ke mereka, apa motivasi terbesarnya ketika mereka menyiapkan masa tua, tentu jawabannya adalah bahwa mereka ingin melihat anak-anaknya kelak bisa mandiri dan tidak harus menanggung biaya untuk orang tuanya.
Bersyukurlah kita yang diberikan rezeki lebih saat ini, ketika mengingat perjuangan orang kita 20-30 tahun yang lalu, menyisihkan sedikit demi sedikit dari harta yang dimiliki, untuk kita dan bukan untuk siapa-siapa..bersyukurlah kita..
Perencanaan keuangan, sulit atau mudah?
Pertanyaan yang menggelitik tentunya, buat yang sudah mengerti tentu hal ini dianggap mudah. Untuk itulah kita harus terus belajar dan memperbaiki cara kita dalam mengelola uang. Menurut Anda sendiri, apakah sulit merencanakan keuangan? Tentunya tidak sedikit, orang-orang di sekitar kita yang justru belum memiliki perencanaan keuangan.
Salah satu “kendala” dalam proses merencanaan keuangan yaitu:
Pertama, kita terlalu focus pada masa kini dan nanti kedepan akan direncanakan sambil jalan, sehingga belum sempat “menuliskan” rencana keluarga kedepan. Masa depan yang akan dilalui misalnya saat pension, ketika tidak produktif lagi - kita kehilangan 80%-90% dari penghasilan utama – tentunya untuk memenuhi kebutuhan hidup selama 10-15 tahun setelah pension, hanya ada pilihan konsumsi dari asset atau terpaksa mengencangkan ikat pinggang untuk penghematan pengeluaran.
Kedua, belum memiliki urgensi untuk segera merencanakan saat ini, karena merasa sudah “aman dan nyaman” dengan kondisi kita saat ini, padahal belum tentu dimasa mendatang tuntutan kehidupan masih sama dengan saat ini karena kita khan tidak selamanya akan bekerja.Tidak ada jaminan bahwa di masa tua nanti keadaan akan tetap baik dan kita mengharapkan masih adanya kepedulian dari keluarga besar jika ada yang membutuhkan bantuan.
Ketiga, belum mengetahui proses sistematis atau disiplin ilmu dalam merencanakan keuangan, misalnya disiplin ilmu tentang nilai uang dimasa datang, skema investasi yang lebih menguntungkan, porsi distribusi income untuk tabungan (saving), proteksi kekayaan (protection) dan akumulasi asset (investment). Ilmu “teknis” diatas barulah sebagian, ilmu yang terpenting justru ilmu “pengendalian diri”, tentang bagaimana kita bisa disiplin ketika ada uang banyak, bagaimana sedikit mengorbankan keinginan (dan mengutamakan kebutuhan) saat ini untuk kebaikan masa datang, dan kebersamaan seluruh anggota keluarga
Jadi bagaimana kesimpulannya? Menurut Anda sulit atau mudah? Tentu tiap-tiap dari kita bisa memberikan jawaban yang berbeda. Namun secara umum, setidaknya kita bisa menyatakan lebih mudah untuk merencanakan dibandingkan dengan melaksanakan. Setuju bukan? Nah, untuk itu yuk siapkan dan fokuskan perhatian kita untuk menjalankannya secara konsisten. Sekecil apapun usaha yang kita lakukan, kalo kita melakukannya dengan konsisten, tentu akan memberikan hasil terbaik juga bukan?
Family planning dulu, baru financial planning
Sejatinya financial planning akan kuat, jika kita mempunyai niat yang kuat utk membuat family planning. Atau dengan kata lain, kita buat rencana terbaik buat keluarga terlebih dahulu baru kemudian kita rencanakan keuangannya, misal kapan anak kita akan memasuki jenjang pendidikan, biaya yang sudah kita siapkan sampai saat ini berapa? Atau berapa porsi tabungan yang harus kita siapkan untuk biaya jalan-jalan keluarga, atau bahkan kita juga perlu mempersiapkan dana pension sedari awal hehe..
Ini adalah suatu kesadaran (awareness) bahwa hidup kita tidak hanya untuk hari ini, tentunya kita juga harus memikirkan kehidupan setelah tidak produktif lagi (non-productive age). Pada masa dimana kita sudah tidak bekerja lagi, hanya ada dua sumber income saat itu, yaitu dari asset yang sudah kita miliki dan ketergantungan pada anak kita. Syukur-syukur jika pada saat kita pension nanti, usia anak kita sudah cukup besar dan kondisinya sudah cukup mapan untuk dapat membantu kehidupan kita secara layak.
Kalo ditinjau dalam konteks financial planning, timeframe atau waktu hidup manusia dibagi dalam 3 tahapan yaitu tahapan 0-25 tahun, 25-50 tahun, dan diatas 50 tahun. Pada masa usia kita 0-25 tahun kita menyebutnya masa ketergantungan kita terhadap orang tua kita, dan setelah cukup mapan di usia 25 tahun, kita mempersiapkan apa yang disebut “wealth creation”, dimana kita mendapatkan income dari pekerjaan dan juga menyisihkan sebagian income utk akumulasi asset dana jangka panjang (wealth accumulation). Prosesnya tidak berhenti sampai disitu, masih diperlukan proteksi terhadap asset dan nilai ekonomis kita (dikenal dengan wealth preservation), hingga khirnya asset dan kekayaan yang kita miliki bisa kita distribusikan untuk anak-anak kita kelak (tahap wealth distribution).
Artinya waktu terbaik untuk merencanakan keuangan adalah pada masa kita masih produktif, yaitu di rentang usia kerja. Sekali lagi, inilah tantangan terbesar buat saya dan mungkin juga Anda, untuk menyisihkan sebagian (minimal 10%) dari income yang kita dapatkan untuk “bekal” kita di masa mendatang. Dan menerapkan pola hidup yang sesuai kebutuhan (bukan keinginan), juga menjadi faktor kunci penentu kesuksesan perencanaan keuangan keluarga.
Jangan abaikan, perhatikan resiko
Sebaik-baik perencanaan perlulah memasukkan juga faktor resiko. Resiko yang dimaksud adalah scenario yang tidak sesuai dengan rencana kita yang diakibatkan oleh faktor yang bisa kita control dan faktor yang sama sekali tidak bisa kita control. Cara terbaik menghadapi resiko adalah dengan menyiapkan segala hal emergency yang dibutuhkan jika resiko tersebut terjadi.
Seperti layaknya ketika kita akan menjalankan bisnis, yang tentunya juga memperhatikan resiko, apalagi sebuah rencana kehidupan. Ada kemungkinan dalam perencanaan kita terlalu optimis atau malah pesimis, keduanya tetap mengandung faktor resiko.
Resiko perencanaan keuangan dibagi menjadi (1) resiko teknikal, misalnya menyangkut kesalahan asumsi income dimasa datang, inflasi atau kesalahan penempatan dana, asumsi pengeluaran yang tidak bisa dikendalikan karena kenaikan harga, atau resiko kegagalan bisnis, (2) resiko kehilangan nilai ekonomis masa datang, yang disebabkan karena misalnya terjadi pemutusan hubungan kerja, sakit keras yang berkepanjangan atau meninggal dunia dari pencari nafkah keluarga, dan (3) resiko yang berhubungan dengan sikap mental kita, resiko ketidakdisiplinan pengeluaran, resiko menurunnya motivasi untuk meningkatkan income atau bahkan resiko menurunnya spirit menabung sehingga lebih dominan expenses dibanding income.
Dengan mengenali resiko secara lebih baik, dan kita sudah menyiapkan scenario terbaik jika resiko itu terjadi, merupakan langkah yang sistematis dan terukur – sehingga program jangka panjang untuk perencanaan keuangan tetap bisa terealisir atau paling tidak “mendekati” tujuan awal.
Namun diatas itu semua tetap ada kehendak Tuhan yang Kuasa yang sudah memiliki rencana terbaik buat kita. Yang bisa kita lakukan adalah memiliki rencana terbaik dan menjalankan ikhtiar sekuat kemampuan kita, demi masa depan keluarga yang harus kita syukuri dan kita jaga sebaik-baiknya. Aamiin..
Wassalam, DH
No comments :
Post a Comment